-->

Iklan

Menggantung Nasib Ribuan Siswa: Siapa yang Bertanggung Jawab atas "Crash" Sistem PCMB Jabar?

SWARHA JABAR NEWS MEDIA
13 Jun 2026, Juni 13, 2026 WIB Last Updated 2026-06-13T07:13:46Z

 


Hari pengumuman hasil seleksi masuk SMA/SMK Negeri di Jawa Barat seharus menjadi momen yang penuh kelegaan. Namun, bagi ribuan orang tua dan calon siswa, hari itu justru berubah menjadi ujian kesabaran yang melelahkan. Layar gawai yang hanya menampilkan status *loading* tanpa akhir, pesan eror *504 Gateway Timeout*, hingga situs yang mendadak tidak bisa diakses sama sekali, kembali menjadi pemandangan yang familier.


Kegagalan sistem (sistem *down* atau *crash*) pada jam-jam krusial pengumuman hasil seleksi ini bukan sekadar masalah teknis "situs sedang sibuk". Ini adalah persoalan transparansi, kepastian psikologis anak, dan akuntabilitas publik.


Pertanyaan besar yang kini bergulir di tengah masyarakat adalah: **Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kekacauan digital tahunan ini?



 Menakar Titik Lemah: Di Mana Tanggung Jawabnya?


Ketika sebuah sistem pemerintahan yang melayani hajat hidup orang banyak tumbang di saat paling dibutuhkan, telunjuk publik secara otomatis mengarah ke beberapa pihak terkait:


 1. Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat

Sebagai pemilik hajat dan pemegang otoritas penuh atas penyelenggaraan seleksi, Disdik Jabar adalah pihak pertama yang memegang tanggung jawab moral dan struktural.


 Pertanyaan Publik Apakah tidak ada evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya? Mengapa prediksi lonjakan trafik (*peak traffic*) saat jam pengumuman selalu gagal diantisipasi?


2. Penyedia Jasa Teknologi dan Infrastruktur Server


Sistem PPDB/PCMB online dibangun menggunakan anggaran negara yang tidak sedikit. Di balik layar, ada tim teknis—baik internal pemerintah maupun vendor pihak ketiga—yang bertanggung jawab atas kapasitas server dan arsitektur jaringan.


 Pertanyaan Publik: Apakah kapasitas server yang disewa atau disediakan tidak mampu melakukan *auto-scaling* (meningkatkan kapasitas secara otomatis saat pengunjung membeludak)? Di mana tim mitigasi krisis saat sistem mulai tumbang?


3. Kurangnya Transparansi dan Alternatif Informasi


Ketika situs utama tumbang, masyarakat sering kali dihadapkan pada ruang hampa informasi. Saluran pengaduan melambat, dan media sosial resmi hanya meminta masyarakat untuk "mencoba lagi secara berkala."


 Pertanyaan Publik: Mengapa tidak ada sistem *mirroring* (situs cadangan) atau pembagian gelombang pengumuman per wilayah (misalnya per KCD/Kantor Cabang Dinas) untuk memecah kepadatan trafik sejak awal?


 Dampak Nyata di Luar Layar Monitor


Masalah ini bukan sekadar urusan *refresh* halaman web. Bagi keluarga dengan ekonomi terbatas, setiap jam keterlambatan pengumuman memicu kecemasan luar biasa. Jika anak mereka tidak diterima di sekolah negeri, mereka harus berkejaran dengan waktu dan kuota untuk mendaftar ke sekolah swasta sebelum biayanya semakin membubung tinggi. Bagi sang anak, ini adalah tekanan mental yang masif.


 Catatan untuk Masa Depan: Bukan Sekadar Maaf, Tapi Audit


Masyarakat Jawa Barat, khususnya para orang tua murid, sudah jenuh dengan retorika permohonan maaf dan imbauan untuk "bersabar." Transformasi digital dalam dunia pendidikan seharusnya mempermudah jalur birokrasi, bukan malah menciptakan sumbatan baru.


Publik berhak menuntut adanya  audit teknologi informasi (IT Audit) yang transparan terhadap sistem PPDB/PCMB Jabar. Harus dibuka secara terang benderang kepada publik: apa akar masalahnya, seberapa besar kapasitas infrastruktur yang disiapkan, dan ke mana anggaran digitalisasi itu dialokasikan.


Selama belum ada pihak yang berani mengambil tanggung jawab penuh dan melakukan perombakan total pada sistem, maka "ritual" kecemasan massal ini tampaknya akan terus berulang setiap tahunnya. Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menjawab kegelisahan warganya.


Komentar

Tampilkan

Terkini

https://swarhajabarnewsmedia.blogspot.com/2025/01/erick-thohir-blak-blakan-ini-alasan-gue.html

+