Iklan

30 Apr 2026

Kepala BGN Sebut Lambung 'Orang Miskin' Tak Terbiasa Makanan Sehat: "Biasanya Cuma Makan Ubi"

Kepala BGN Sebut Lambung 'Orang Miskin' Tak Terbiasa Makanan Sehat: "Biasanya Cuma Makan Ubi"


JAKARTA – Pernyataan mengejutkan datang dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Indrayana, menanggapi laporan kasus keracunan yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukannya mengevaluasi standar higienitas katering, Dadan justru menyebut bahwa insiden muntah-muntah tersebut terjadi karena faktor adaptasi organ pencernaan masyarakat kelas bawah.


Menurut Dadan, sistem pencernaan kelompok masyarakat kurang mampu belum terbiasa mengolah asupan nutrisi yang kompleks dan sehat secara mendadak.


Analogi "Lambung Sensitit


Dadan menjelaskan bahwa pola konsumsi harian rakyat kecil yang cenderung monoton menjadi pemicu reaksi penolakan tubuh saat menerima menu MBG.


> "Dari kasus keracunan MBG ini, menurut saya lambung orang miskin belum layak menerima makanan sehat, jadi akibatnya muntah-muntah," ujar Dadan secara blak-blakan kepada media.

Ia menambahkan bahwa selama ini rakyat lebih sering mengonsumsi sumber karbohidrat dan protein sederhana dengan pengolahan minimalis.


"Rakyat kita biasanya hanya makan tahu, tempe, dan ubi rebus. Wajar saja kalau lambungnya sensitif saat tiba-tiba diberi makanan dengan standar gizi tinggi," lanjutnya.


Polemik Standar Keamanan Pangan


Pernyataan ini sontak memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut seolah "menyalahkan" korban alih-alih melakukan investigasi mendalam terhadap potensi kontaminasi bakteri atau prosedur penyajian yang tidak steril dalam program MBG.


Hingga berita ini diturunkan, tagar **#mbg** tengah menjadi sorotan netizen di media sosial, di mana publik mempertanyakan apakah masalah sebenarnya terletak pada "lambung rakyat" atau pada "kualitas pengawasan" pemerintah terhadap vendor penyedia makanan.




  Gebrakan Susi Pudjiastuti: Akankah "Sentuhan Dinginnya" Kembali di Bank BJB?


BANDUNG – Nama Susi Pudjiastuti kembali menjadi buah bibir. Bukan soal kebijakan kelautan atau aksi "tenggelamkan" kapal pencuri ikan yang ikonik, melainkan kabar mengejutkan mengenai keterlibatannya dalam bursa kepemimpinan di Bank BJB. Usulan yang datang dari tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ini sontak memicu diskusi hangat di ruang publik: Mampukah sang "Srikandi Pangandaran" membawa perubahan besar pada institusi keuangan daerah tersebut?


 Rekam Jejak Tanpa Kompromi


Bagi masyarakat Indonesia, Susi adalah personifikasi dari keberanian. Memulai karir dari nol sebagai pengepul ikan di pesisir Pangandaran, ia membuktikan bahwa visi yang tajam jauh lebih berharga daripada sekadar ijazah formal. Keberhasilannya membangun maskapai perintis Susi Air dari satu buah pesawat menjadi armada yang krusial bagi konektivitas wilayah terpencil adalah bukti nyata "sentuhan dinginnya" dalam dunia bisnis.


Saat menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, gaya kepemimpinannya yang *out-of-the-box* dan tegas berhasil meningkatkan martabat laut Indonesia. Kini, tantangan baru menanti di sektor yang sangat berbeda: perbankan.




Transformasi Bank BJB: Tantangan atau Peluang?


Bank BJB bukan sekadar bank pembangunan daerah biasa; ia adalah salah satu pilar ekonomi Jawa Barat dan Banten yang memiliki ambisi nasional. Namun, di tengah era digitalisasi perbankan yang sangat kompetitif, BJB membutuhkan figur yang mampu berpikir radikal dan memiliki integritas tinggi.


Munculnya nama Susi Pudjiastuti diyakini dapat memberikan beberapa dampak strategis:


 Penyegaran Budaya Kerja: Gaya Susi yang pragmatis dan anti-birokrasi berpotensi mendobrak kekakuan yang sering melekat pada institusi plat merah.


 Penguatan Sektor UMKM: Mengingat latar belakangnya sebagai pengusaha bawah, Susi diharapkan mampu membawa BJB lebih dekat dengan para pelaku usaha kecil dan nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Jabar.


 Citra dan Kepercayaan Publik: Kehadiran tokoh dengan integritas kuat seperti Susi dapat meningkatkan kepercayaan investor maupun nasabah terhadap tata kelola bank.

Melihat ke Depan

Meski usulan ini masih dalam tahap wacana publik, ekspektasi masyarakat sudah terlanjur tinggi. Apakah Susi akan benar-benar mendarat di kursi strategis Bank BJB? Dan jika ya, gebrakan apa yang akan ia lakukan untuk memperkuat fondasi keuangan di tanah kelahirannya?


Satu hal yang pasti, di mana pun Susi berada, ia jarang sekali membiarkan segala sesuatunya berjalan "biasa saja". Jika sejarah adalah panduan, maka kehadiran Susi di Bank BJB bisa jadi adalah awal dari babak baru perbankan daerah yang lebih berani dan inovatif.


**Pangandaran, April 2026**

*Oleh: Tim Redaksi*


Senyum Hangat di Gerbang Kesembuhan: Duta Layanan RSUD Cicalengka Jadi Garda Terdepan Humanisme Rumah Sakit

 Senyum Hangat di Gerbang Kesembuhan: Duta Layanan RSUD Cicalengka Jadi Garda Terdepan Humanisme Rumah Sakit


CICALENGKA – Kesan kaku dan menegangkan yang kerap melekat pada institusi rumah sakit perlahan mulai terkikis di RSUD Cicalengka. Bukan hanya karena kecanggihan alat medisnya, melainkan berkat kehadiran sosok-sosok ramah yang menjadi wajah pertama penyambut pasien: **Duta Layanan**.


Berdiri sigap di area pintu masuk dan lobi utama, para Duta Layanan ini bukan sekadar pemberi informasi. Mereka adalah garda terdepan yang bertugas memastikan setiap masyarakat yang datang merasa diterima, tenang, dan terbantu sejak langkah pertama mereka memasuki rumah sakit.


---


### Lebih dari Sekadar Penerima Tamu


Kehadiran Duta Layanan di RSUD Cicalengka merupakan inovasi untuk meningkatkan indeks kepuasan masyarakat. Tugas mereka mencakup spektrum yang luas, mulai dari:


* **Sapaan Berbasis Empati:** Menyambut pasien dengan senyum dan keramahan untuk menurunkan tingkat kecemasan (anxiety) pasien yang sedang sakit.

* **Navigasi Cepat:** Membantu mengarahkan alur pendaftaran, poliklinik, hingga administrasi agar tidak terjadi penumpukan atau kebingungan.

* **Pendampingan Prioritas:** Memberikan perhatian khusus bagi lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil yang membutuhkan bantuan mobilitas.


> "Kami ingin masyarakat merasa bahwa RSUD Cicalengka bukan tempat yang menakutkan, tapi tempat yang peduli. Duta Layanan adalah jembatan komunikasi antara kebutuhan medis dan kenyamanan psikologis pasien," ujar salah satu perwakilan manajemen RSUD Cicalengka.


---


### Transformasi Budaya Pelayanan


Langkah RSUD Cicalengka ini menandai transformasi budaya kerja dari yang bersifat birokratis menjadi lebih **customer-centric**. Para Duta Layanan dibekali dengan pelatihan khusus mengenai standar pelayanan prima (*service excellence*), komunikasi efektif, hingga penanganan keluhan secara persuasif.


Masyarakat yang berkunjung pun memberikan respon positif. "Biasanya kalau ke rumah sakit suka bingung mau ke mana dulu. Tapi sekarang dari depan sudah ditanya dan diantar. Rasanya lebih tenang dan dihargai," ungkap Siti (45), salah satu keluarga pasien asal Cikancung.


### Harapan ke Depan


Dengan konsistensi kehadiran Duta Layanan, RSUD Cicalengka berkomitmen untuk terus berinovasi. Targetnya jelas: menjadikan fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah ini setara dengan rumah sakit swasta dalam hal kualitas pelayanan publik.


Kehadiran mereka membuktikan bahwa dalam dunia medis yang serba teknis, sentuhan kemanusiaan melalui sapaan tulus dan bantuan yang sigap tetaplah menjadi obat pertama bagi mereka yang mencari kesembuhan.


---

**RSUD Cicalengka: Melayani dengan Hati, Menyembuhkan dengan Bukti.**

HEADLINE: Kado Spesial HUT ke-85 Kabupaten Bandung: RSUD Cicalengka Resmikan Ruang NICU Modern dan Gelar Aksi Donor Darah

HEADLINE: Kado Spesial HUT ke-85 Kabupaten Bandung: RSUD Cicalengka Resmikan Ruang NICU Modern dan Gelar Aksi Donor Darah



CICALENGKA, – Peringatan Hari Jadi (HUT) ke-85 Kabupaten Bandung tahun ini terasa begitu istimewa, khususnya bagi warga di wilayah Bandung Timur. Sebagai bentuk kontribusi nyata dan "kado spesial" bagi masyarakat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka resmi mengoperasikan fasilitas kesehatan terbaru: Ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), dibarengi dengan aksi kemanusiaan donor darah massal, [Sebutkan Hari dan Tanggal Kegiatan, misal: Senin (21/4/2026)].

Langkah strategis ini menjadi tonggak sejarah bagi RSUD Cicalengka dalam meningkatkan kualitas layanan, sekaligus mendukung visi Pemerintah Kabupaten Bandung dalam melahirkan generasi "BEDAS" (Bangkit, Edukatif, Dinamis, Agamis, dan Sejahtera) yang sehat sejak dini.

Fasilitas NICU: Harapan Baru bagi Bayi Prematur dan Kritis

Peresmian Ruang NICU ini merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak akan layanan intensif bagi bayi baru lahir (neonatus) yang membutuhkan perawatan khusus, seperti bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), atau bayi yang mengalami kegawatan medis.

Direktur RSUD Cicalengka,: dr. H. Yani Sumpena Muchtar, SH, MH.Kes menjelaskan bahwa fasilitas NICU terbaru ini dilengkapi dengan peralatan medis modern berstandar tinggi dan didukung oleh tim medis yang kompeten, terdiri dari dokter spesialis anak, dokter subspesialis neonatologi, serta perawat terlatih khusus NICU.

"Ini adalah kado terindah dari kami untuk seluruh warga Kabupaten Bandung dalam momen HUT ke-85 ini. Kami tidak ingin lagi mendengar ada warga yang kesulitan mendapatkan ruang perawatan intensif untuk bayinya. Dengan adanya NICU di RSUD Cicalengka, kami berupaya mendekatkan layanan canggih ini kepada masyarakat Cicalengka, Nagreg, Rancaekek, dan sekitarnya," ujar dr. Yani.

Fasilitas NICU ini diharapkan mampu menurunkan angka kematian bayi (AKB) di wilayah Kabupaten Bandung dengan memberikan intervensi medis yang cepat, tepat, dan komprehensif.

Semarak Kemanusiaan melalui Donor Darah

Melengkapi sukacita peresmian fasilitas baru, RSUD Cicalengka juga menggelar aksi bakti sosial donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Kegiatan ini mendapat antusiasme luar biasa dari berbagai kalangan, mulai dari pegawai rumah sakit, aparatur kecamatan, TNI/Polri, hingga masyarakat umum.

Aksi ini bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan darah di wilayah Kabupaten Bandung yang seringkali mengalami kekurangan stok, khususnya untuk jenis golong darah tertentu.

"Peresmian NICU adalah tentang meningkatkan skill dan teknologi kami, sedangkan donor darah adalah tentang merawat spirit kemanusiaan dan kepedulian sosial kita. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dalam pelayanan kesehatan. Kami sangat mengapresiasi setiap tetes darah yang didonorkan oleh warga hari ini; itu adalah hadiah kehidupan bagi yang membutuhkan," tambah dr. Yani.

Komitmen Pelayanan Tanpa Batas

Di usia Kabupaten Bandung yang ke-85, RSUD Cicalengka terus berkomitmen untuk bertransformasi menjadi pusat layanan kesehatan terpercaya. Tidak hanya berfokus pada kelengkapan sarana prasarana, tetapi juga pada peningkatan keramahan dan kecepatan pelayanan kepada pasien.

Melalui kehadiran Ruang NICU dan aksi donor darah ini, RSUD Cicalengka menunjukkan bahwasanya perayaan hari jadi bukan sekadar seremonial belaka, melainkan momentum untuk memberikan persembahan terbaik bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Selamat Hari Jadi ke-85 Kabupaten Bandung!

  (Tim Redaksi)