Kepala BGN Sebut Lambung 'Orang Miskin' Tak Terbiasa Makanan Sehat: "Biasanya Cuma Makan Ubi"
JAKARTA – Pernyataan mengejutkan datang dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Indrayana, menanggapi laporan kasus keracunan yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukannya mengevaluasi standar higienitas katering, Dadan justru menyebut bahwa insiden muntah-muntah tersebut terjadi karena faktor adaptasi organ pencernaan masyarakat kelas bawah.
Menurut Dadan, sistem pencernaan kelompok masyarakat kurang mampu belum terbiasa mengolah asupan nutrisi yang kompleks dan sehat secara mendadak.
Analogi "Lambung Sensitit
Dadan menjelaskan bahwa pola konsumsi harian rakyat kecil yang cenderung monoton menjadi pemicu reaksi penolakan tubuh saat menerima menu MBG.
> "Dari kasus keracunan MBG ini, menurut saya lambung orang miskin belum layak menerima makanan sehat, jadi akibatnya muntah-muntah," ujar Dadan secara blak-blakan kepada media.
>
Ia menambahkan bahwa selama ini rakyat lebih sering mengonsumsi sumber karbohidrat dan protein sederhana dengan pengolahan minimalis.
"Rakyat kita biasanya hanya makan tahu, tempe, dan ubi rebus. Wajar saja kalau lambungnya sensitif saat tiba-tiba diberi makanan dengan standar gizi tinggi," lanjutnya.
Polemik Standar Keamanan Pangan
Pernyataan ini sontak memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut seolah "menyalahkan" korban alih-alih melakukan investigasi mendalam terhadap potensi kontaminasi bakteri atau prosedur penyajian yang tidak steril dalam program MBG.
Hingga berita ini diturunkan, tagar **#mbg** tengah menjadi sorotan netizen di media sosial, di mana publik mempertanyakan apakah masalah sebenarnya terletak pada "lambung rakyat" atau pada "kualitas pengawasan" pemerintah terhadap vendor penyedia makanan.




