Iklan

1 Mei 2026

Mahkota Binokasih ‘Turun Jalan’ di Milangkala Sunda 2026: Dedi Mulyadi Tekankan Pesan Kasih Sayang

Mahkota Binokasih ‘Turun Jalan’ di Milangkala Sunda 2026: Dedi Mulyadi Tekankan Pesan Kasih Sayang



SUMEDANGKemilau sejarah kemaharajaan Sunda akan kembali menyapa dalam kemegahan Kirab Panji dan Mahkota Binokasih yang dijadwalkan pada Sabtu malam Minggu, 2 Mei 2026. Tradisi Keraton Sumedang Larang ini siap digelar dengan skala yang jauh lebih besar dan megah.


Perhelatan tahun 2026 menjadi momentum bersejarah karena diintegrasikan sebagai agenda resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan tema besar "Milangkala Sunda: Aya Pindah".


Simbol Jati Diri Bangsa yang Adiluhung


Tokoh masyarakat Jawa Barat, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang hadir mengenakan udeng putih khas Sunda, menegaskan bahwa mahkota ini bukan sekadar peninggalan kekuasaan masa lalu.


"Mahkota ini simbol ajaran kehidupan yang mengutamakan nilai kasih sayang. Di dalamnya ada gotong royong, musyawarah, keadilan, dan kebijaksanaan," tegas Dedi. Beliau menambahkan bahwa Kirab Mahkota ini adalah identitas dan jati diri bangsa yang Adiluhung.


Kirab akbar ini akan melibatkan partisipasi dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat, menjadikannya sebagai hajatan budaya Sunda terbesar di tingkat provinsi.


Rute Megah dari Keraton ke Pendopo


Iring-iringan kirab dijadwalkan mulai pukul 18.30 WIB dengan menempuh rute sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer.


Rute perjalanan akan dimulai dari Keraton Sumedang Larang, melintasi Jalan Prabu Gajah Agung dan Jalan Serma Muhtadi, hingga berakhir di Pendopo IPP (Induk Pusat Pemerintahan) Kabupaten Sumedang.


Undangan Terbuka untuk Seluruh Warga


Pihak penyelenggara menekankan bahwa acara ini terbuka untuk umum tanpa pembatasan. Harapannya, masyarakat luas dapat ikut menyaksikan dan meningkatkan kecintaan terhadap sejarah serta budaya leluhur.


Kehadiran Dedi Mulyadi dan tokoh-tokoh Jawa Barat lainnya diharapkan semakin meneguhkan pentingnya melestarikan warisan Sunda di era modern.

Tim Redaksi


30 Apr 2026

Iwan Bule: Peresmian 13 Proyek Hilirisasi Tahap 2 adalah Manifestasi Nyata Indonesia Berdikari

 Iwan Bule: Peresmian 13 Proyek Hilirisasi Tahap 2 adalah Manifestasi Nyata Indonesia Berdikari


JAKARTA – Langkah besar diambil Presiden Prabowo Subianto dalam memperkokoh kedaulatan ekonomi nasional. Pada Rabu (29/4/2026), Presiden resmi meresmikan 13 proyek hilirisasi tahap 2, sebuah langkah yang memicu optimisme luas di berbagai kalangan. Salah satu dukungan kuat datang dari tokoh nasional Mochamad Iriawan, atau yang akrab disapa Iwan Bule.


Dalam pernyataannya, Iwan Bule menegaskan bahwa konsistensi pemerintah dalam mendorong hilirisasi bukan sekadar kebijakan ekonomi biasa, melainkan sebuah perjuangan ideologis untuk membawa Indonesia lepas dari ketergantungan asing.


Manifestasi Indonesia Maju


"Satu tujuan, untuk Indonesia yang berdikari!" seru Iwan Bule penuh semangat. Menurutnya, peresmian 13 proyek strategis ini adalah bukti konkret bahwa visi besar Presiden Prabowo tentang kedaulatan industri mulai membuahkan hasil nyata.


> "Langkah Presiden Prabowo meresmikan 13 proyek hilirisasi tahap 2 adalah manifestasi nyata dari komitmen kita untuk tidak lagi hanya menjual tanah air dalam bentuk mentah. Kita sedang membangun fondasi agar nilai tambah itu dinikmati oleh rakyat kita sendiri," ujar Iwan Bule.


Membangun Ekosistem Industri dari Hulu ke Hilir


Proyek-proyek yang diresmikan mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pengolahan mineral, nikel, hingga komoditas pertanian dan kelautan. Hilirisasi tahap 2 ini diprediksi akan menyerap ratusan ribu tenaga kerja baru dan meningkatkan pendapatan negara secara signifikan melalui ekspor produk bernilai tinggi.


Iwan Bule menambahkan bahwa keberanian pemerintah untuk terus maju di tengah tantangan global menunjukkan kepemimpinan yang kuat. "Dunia luar mungkin akan melihat ini sebagai ancaman bagi pasar mereka, tapi bagi kita, ini adalah harga mati untuk kesejahteraan anak cucu bangsa."


Dampak bagi Ekonomi Lokal


Selain dampak makro, Iwan Bule menyoroti bagaimana proyek-proyek ini akan menghidupkan ekonomi di daerah. Dengan adanya pabrik pengolahan di berbagai wilayah, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru akan bermunculan di luar Pulau Jawa.


Poin Utama Hilirisasi Tahap 2:


 Peningkatan Nilai Tambah: Mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi.


 Kemandirian Ekonomi: Mengurangi ketergantungan pada impor produk manufaktur.


 Penciptaan Lapangan Kerja: Fokus pada tenaga kerja lokal dan transfer teknologi.

Optimisme Menuju Indonesia Emas 2045


Menutup pernyataannya, Iwan Bule mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengawal dan mendukung penuh langkah strategis ini. Ia meyakini bahwa jika momentum ini terjaga, cita-cita Indonesia menjadi kekuatan ekonomi lima besar dunia bukan lagi sekadar mimpi.


"Ini adalah jalan panjang, tapi kita sudah berada di jalur yang benar. Bersama Presiden Prabowo, kita wujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur!" pungkasnya.


Kepala BGN Sebut Lambung 'Orang Miskin' Tak Terbiasa Makanan Sehat: "Biasanya Cuma Makan Ubi"

Kepala BGN Sebut Lambung 'Orang Miskin' Tak Terbiasa Makanan Sehat: "Biasanya Cuma Makan Ubi"


JAKARTA – Pernyataan mengejutkan datang dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Indrayana, menanggapi laporan kasus keracunan yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukannya mengevaluasi standar higienitas katering, Dadan justru menyebut bahwa insiden muntah-muntah tersebut terjadi karena faktor adaptasi organ pencernaan masyarakat kelas bawah.


Menurut Dadan, sistem pencernaan kelompok masyarakat kurang mampu belum terbiasa mengolah asupan nutrisi yang kompleks dan sehat secara mendadak.


Analogi "Lambung Sensitit


Dadan menjelaskan bahwa pola konsumsi harian rakyat kecil yang cenderung monoton menjadi pemicu reaksi penolakan tubuh saat menerima menu MBG.


> "Dari kasus keracunan MBG ini, menurut saya lambung orang miskin belum layak menerima makanan sehat, jadi akibatnya muntah-muntah," ujar Dadan secara blak-blakan kepada media.

Ia menambahkan bahwa selama ini rakyat lebih sering mengonsumsi sumber karbohidrat dan protein sederhana dengan pengolahan minimalis.


"Rakyat kita biasanya hanya makan tahu, tempe, dan ubi rebus. Wajar saja kalau lambungnya sensitif saat tiba-tiba diberi makanan dengan standar gizi tinggi," lanjutnya.


Polemik Standar Keamanan Pangan


Pernyataan ini sontak memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut seolah "menyalahkan" korban alih-alih melakukan investigasi mendalam terhadap potensi kontaminasi bakteri atau prosedur penyajian yang tidak steril dalam program MBG.


Hingga berita ini diturunkan, tagar **#mbg** tengah menjadi sorotan netizen di media sosial, di mana publik mempertanyakan apakah masalah sebenarnya terletak pada "lambung rakyat" atau pada "kualitas pengawasan" pemerintah terhadap vendor penyedia makanan.




  Gebrakan Susi Pudjiastuti: Akankah "Sentuhan Dinginnya" Kembali di Bank BJB?


BANDUNG – Nama Susi Pudjiastuti kembali menjadi buah bibir. Bukan soal kebijakan kelautan atau aksi "tenggelamkan" kapal pencuri ikan yang ikonik, melainkan kabar mengejutkan mengenai keterlibatannya dalam bursa kepemimpinan di Bank BJB. Usulan yang datang dari tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ini sontak memicu diskusi hangat di ruang publik: Mampukah sang "Srikandi Pangandaran" membawa perubahan besar pada institusi keuangan daerah tersebut?


 Rekam Jejak Tanpa Kompromi


Bagi masyarakat Indonesia, Susi adalah personifikasi dari keberanian. Memulai karir dari nol sebagai pengepul ikan di pesisir Pangandaran, ia membuktikan bahwa visi yang tajam jauh lebih berharga daripada sekadar ijazah formal. Keberhasilannya membangun maskapai perintis Susi Air dari satu buah pesawat menjadi armada yang krusial bagi konektivitas wilayah terpencil adalah bukti nyata "sentuhan dinginnya" dalam dunia bisnis.


Saat menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, gaya kepemimpinannya yang *out-of-the-box* dan tegas berhasil meningkatkan martabat laut Indonesia. Kini, tantangan baru menanti di sektor yang sangat berbeda: perbankan.




Transformasi Bank BJB: Tantangan atau Peluang?


Bank BJB bukan sekadar bank pembangunan daerah biasa; ia adalah salah satu pilar ekonomi Jawa Barat dan Banten yang memiliki ambisi nasional. Namun, di tengah era digitalisasi perbankan yang sangat kompetitif, BJB membutuhkan figur yang mampu berpikir radikal dan memiliki integritas tinggi.


Munculnya nama Susi Pudjiastuti diyakini dapat memberikan beberapa dampak strategis:


 Penyegaran Budaya Kerja: Gaya Susi yang pragmatis dan anti-birokrasi berpotensi mendobrak kekakuan yang sering melekat pada institusi plat merah.


 Penguatan Sektor UMKM: Mengingat latar belakangnya sebagai pengusaha bawah, Susi diharapkan mampu membawa BJB lebih dekat dengan para pelaku usaha kecil dan nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Jabar.


 Citra dan Kepercayaan Publik: Kehadiran tokoh dengan integritas kuat seperti Susi dapat meningkatkan kepercayaan investor maupun nasabah terhadap tata kelola bank.

Melihat ke Depan

Meski usulan ini masih dalam tahap wacana publik, ekspektasi masyarakat sudah terlanjur tinggi. Apakah Susi akan benar-benar mendarat di kursi strategis Bank BJB? Dan jika ya, gebrakan apa yang akan ia lakukan untuk memperkuat fondasi keuangan di tanah kelahirannya?


Satu hal yang pasti, di mana pun Susi berada, ia jarang sekali membiarkan segala sesuatunya berjalan "biasa saja". Jika sejarah adalah panduan, maka kehadiran Susi di Bank BJB bisa jadi adalah awal dari babak baru perbankan daerah yang lebih berani dan inovatif.


**Pangandaran, April 2026**

*Oleh: Tim Redaksi*