Iklan

8 Nov 2025

Bukan Cuma Ngomongin Jalan! Kang Haji Firman (MBA) Bongkar Jurus Dapur Ekonomi Warga Panyeweyan di Reses Golkar!

 Bukan Cuma Ngomongin Jalan! Kang Haji Firman (MBA) Bongkar Jurus Dapur Ekonomi Warga Panyeweyan di Reses Golkar!


 BANDUNG - Warga Panyeweyan, Kabupaten Bandung, baru-baru ini kedatangan tamu istimewa, yaitu H. Firman B. Sumantri, M.B.A., anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Golkar, yang menggelar Reses Masa Sidang I Tahun 2025.


 Beda dari reses pada umumnya, suasana di Panyeweyan kemarin terasa seperti seminar bisnis dadakan! Kenapa? Karena Kang Haji Firman ini kan bergelar Master of Business Administration (M.B.A.), jadi obrolannya banyak nyerempet ke soal duit dan cara muterin duit.


 "Saya hadir di sini untuk mendengar, tapi juga untuk berbagi. Jangan cuma fokus ke aspal dan gorong-gorong saja, Bapak-Ibu. Kita harus punya mindset bagaimana uang itu bisa berputar lebih cepat di Panyeweyan ini," kata Kang Haji Firman yang langsung disambut tepuk tangan meriah.


 Warga 'Nembak' Soal Modal dan Pelatihan

 Melihat Kang Haji Firman yang berlatar belakang ekonomi, warga Panyeweyan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Curhatan yang masuk kali ini bukan hanya soal lampu jalan, tapi lebih spesifik ke urusan 'dapur' rumah tangga dan desa:



 Akses Modal UMKM: Keluhan paling dominan datang dari ibu-ibu yang punya usaha rumahan (UMKM), seperti makanan ringan atau kerajinan. Mereka butuh akses modal yang lebih mudah tanpa bunga mencekik.


 Manajemen BUMDes: Warga dan perangkat desa ingin tahu bagaimana cara mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar lebih profesional dan bisa mendatangkan keuntungan nyata bagi desa, bukan sekadar papan nama.


 Pelatihan Digital: Para pemuda menagih janji pelatihan digital dan pemasaran online agar produk lokal Panyeweyan bisa dikenal lebih luas.

 Jurus Jitu 'Anak MBA' untuk Panyeweyan

 Menanggapi permintaan tersebut, Kang Haji Firman tidak hanya berjanji, tapi langsung memaparkan strategi yang to the point. Beliau menegaskan bahwa sebagai kader Golkar, fokus pembangunan haruslah merata, termasuk penguatan ekonomi akar rumput.


 "Catat ya! Saya akan kawal alokasi dana untuk program pelatihan kewirausahaan dan dana bergulir tanpa agunan yang bisa diakses oleh UMKM di Panyeweyan. Kita butuh pelatihan bukan cuma teori, tapi yang langsung praktik dan bisa jual. Soal BUMDes, kita akan siapkan pendampingan manajemen agar tata kelolanya kayak perusahaan profesional," tegas Kang Haji Firman.


 Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara program dewan dan Pemda. Menurutnya, Reses ini bukan akhir, tapi awal dari langkah-langkah konkret untuk menyejahterakan warga.


 Reses Golkar di Panyeweyan ini sukses memberikan angin segar. Warga merasa mendapatkan pencerahan, tidak hanya solusi infrastruktur, tetapi juga 'vitamin' untuk menguatkan ekonomi lokal. Pulang dari reses, warga Panyeweyan kini punya harapan baru: ekonomi gaspol, dompet makin tebal!

Tiga Hari Usai Curhat PJU ke Dewan: Warga Jelegong Mulai Deg-Degan, Akankah Janji Perbaikan Jalan Tancap Gas?

Tiga Hari Usai Curhat PJU ke Dewan: Warga Jelegong Mulai Deg-Degan, Akankah Janji Perbaikan Jalan Tancap Gas?


BANDUNG – Tiga hari sudah berlalu sejak Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Gerindra, Bapak Dedi Saepudin Rohman, S.H., menggelar Reses Sidang I Tahun 2025 di Desa Jelegong, Rancaekek. Dalam pertemuan hangat tersebut, aspirasi utama warga soal Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mati dan kondisi jalan yang butuh perbaikan langsung ditampung.


​Kini, warga Jelegong memasuki fase "menunggu realisasi". Harapan besar menggantung, mengingat Pak Dedi menjanjikan aspirasi tersebut akan segera disampaikan dan diupayakan untuk ditindaklanjuti tanpa menunda-nunda.


​Status "Tancap Gas" Administrasi


​Menurut informasi yang dihimpun, tim dari Anggota DPRD Dedi Saepudin Rohman dikabarkan memang langsung tancap gas memproses catatan aspirasi yang masuk. Fokus utama saat ini adalah memastikan proposal perbaikan PJU dan jalan masuk ke dinas terkait, seperti Dinas PUPR atau Dinas Perhubungan, untuk penganggaran.


​"Masyarakat berharap prosesnya tidak lama. Kalau urusan administrasi bisa ngebut, semoga realisasi fisiknya juga cepat," ujar salah satu tokoh masyarakat Jelegong yang enggan disebut namanya, Kamis (7/11).


​Ketidaknyamanan akibat PJU yang mati memang menjadi isu krusial. Bukan hanya soal estetika, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), terutama di malam hari.


​Warga Berharap Bukan Sekadar "Janji Manis" Reses


Kepala Desa Jelegong, Bapak Anen, sebelumnya sudah menyampaikan rasa terima kasihnya karena aspirasi warga sudah mulai ditindaklanjuti. Namun, ia kembali menekankan agar aspirasi yang baru, khususnya terkait PJU dan perbaikan jalan, segera direspons oleh pemerintah.


​"Kami tahu ini proses, tapi semangat dari reses kemarin yang menjanjikan tindak lanjut cepat, itulah yang kami pegang. Kalau PJU menyala dan jalan mulus, aktivitas ekonomi warga pasti lebih lancar," kata seorang ibu rumah tangga yang rumahnya dekat dengan jalan yang dikeluhkan.


​Publik Desa Jelegong kini menantikan langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Bandung. Reses sebagai jembatan aspirasi sudah terlaksana, kini saatnya melihat sejauh mana komitmen dewan dan pemerintah daerah untuk mengubah "curhatan" warga menjadi kenyataan di hari-hari berikutnya.

7 Nov 2025

Gaspol! Toni Permana 'Jemput Bola' ke Warga, Tiga Isu Ini Langsung Ditagih Warga di Reses NasDem! (Siap Dikawal Sampai Tuntas)

 Gaspol! Toni Permana 'Jemput Bola' ke Warga, Tiga Isu Ini Langsung Ditagih Warga di Reses NasDem! (Siap Dikawal Sampai Tuntas)


 BANDUNG - Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Partai NasDem, Toni Permana, S.H., 


baru-baru ini bikin heboh di wilayah Ciparay saat menggelar Reses Masa Sidang I Tahun 2025. Sesuai dengan semangat 'Gerakan Perubahan' partainya, reses Kang Toni ini terasa energik, cepat, dan fokus mencari solusi, bukan sekadar janji.


 Dikenal sebagai anggota dewan yang muda dan berlatar belakang pendidikan hukum, Kang Toni ingin memastikan bahwa aspirasi warga di dapilnya bisa dikawal secara legal dan administratif tanpa pake lama.


 "Saya datang ke sini bukan mau dengerin pidato, tapi mau dengar suara asli Bapak-Ibu semua. Saya mau memastikan, kalau ada masalah, kita carikan solusi yang cepat dan sesuai aturan. Jadi, jangan sungkan! Anggap saya tetangga yang lagi ngopi bareng," ujar Kang Toni dengan gaya santai.


 Tiga Isu Krusial yang Langsung 'Ditembak' Warga

 Dalam sesi tanya jawab, warga terlihat sangat antusias dan langsung menyampaikan tiga isu utama yang mereka anggap paling mendesak:

 Jalan Lingkungan dan Penerangan: Ini jadi keluhan klasik tapi paling penting. Warga menyoroti jalan-jalan gang yang rusak dan minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) yang sering memicu rasa tidak aman di malam hari.


 Permodalan UMKM dan Koperasi: Banyak pelaku usaha mikro yang berharap ada program khusus dari Pemda untuk mendapatkan modal ringan dan pelatihan pemasaran digital. Mereka ingin usahanya naik kelas.


 Birokrasi Pelayanan Publik: Mengingat Kang Toni bergelar S.H., beberapa warga curhat soal kesulitan mengurus dokumen penting, dari KTP, KK, hingga perizinan. Mereka berharap birokrasi bisa lebih cepat dan friendly.


 Janji Kang Toni: "Gas Sampai Tuntas!"

 Menanggapi keluhan soal birokrasi dan legalitas, Kang Toni Permana menekankan pentingnya transparansi. Ia berjanji akan menggunakan posisinya di DPRD untuk menekan dinas-dinas terkait agar memangkas prosedur yang tidak perlu.

 "Kalau urusan perizinan KTP atau KK masih ribet, itu artinya pelayanan kita gagal. Saya akan kawal ini di Komisi. Kita harus dorong pelayanan yang digital dan cepat. Prinsipnya, kalau bisa selesai hari ini, kenapa harus besok? Gas sampai tuntas!" tegas Kang Toni, menggunakan istilah yang populer di kalangan muda.


 Untuk masalah infrastruktur, Kang Toni berjanji akan memprioritaskan usulan PJU dan perbaikan jalan lingkungan yang kondisinya paling parah, memastikan masuk dalam APBD perubahan tahun ini.


 Reses Toni Permana ini menjadi bukti bahwa semangat 'Gerakan Perubahan' yang diusung NasDem bukan sekadar jargon. Warga pulang dengan optimisme baru, yakin bahwa aspirasi mereka akan dikawal oleh wakil rakyat yang gesit dan siap "Gaspol" di Gedung Dewan.

Gak Ada Jarak! Kang Yayat 'Banteng' PDIP Ngopi Bareng Warga Sukarame, Curhatan Sampai ke Urusan Lapangan Bola!

 Gak Ada Jarak! Kang Yayat 'Banteng' PDIP Ngopi Bareng Warga Sukarame, Curhatan Sampai ke Urusan Lapangan Bola!


 BANDUNG - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Dapil 6, Yayat Sumirat, S.H., baru-baru ini bikin heboh di Desa Sukarame. Kenapa heboh? Karena reses Masa Sidang I Tahun 2025 yang diadakannya jauh dari kesan formal dan kaku, malah lebih mirip acara ngopi dan ngobrol santai ala tetangga!


 Dihadiri langsung oleh Kepala Desa Sukarame, acara ini jadi ajang silaturahmi yang benar-benar cair. Kang Yayat, yang mewakili 'Banteng Moncong Putih' di DPRD, sengaja memilih pendekatan kekeluargaan agar warga tidak sungkan menyampaikan unek-unek yang selama ini mengganjal.


 "Saya datang ke sini bukan mau ceramah atau pidato. Saya ke sini mau dengar suara rakyat. Saya ini kepanjangan lidah Bapak-Ibu di Gedung Dewan. Jadi, jangan malu-malu. Keluhkan saja, mulai dari jalan bolong sampai soal iuran RT!" canda Kang Yayat yang langsung disambut tawa renyah warga.


 Dari Jalan Rusak Sampai Nasib Pemuda

 Meskipun suasananya santai, curhatan yang masuk tetap serius dan krusial. Kepala Desa Sukarame pun ikut mendampingi untuk memastikan semua masalah terpetakan dengan baik. Beberapa topik yang paling hangat dibahas antara lain:


 Infrastruktur Ringan tapi Mendesak: Banyak warga yang mengeluhkan perbaikan jalan lingkungan (gang) yang sudah lama diusulkan tapi belum terealisasi, serta masalah saluran air yang sering mampet.


 Fasilitas Olahraga Pemuda: Para pemuda setempat curhat soal minimnya perhatian terhadap fasilitas olahraga. Mereka berharap ada bantuan untuk merenovasi lapangan serbaguna yang kondisinya sudah memprihatinkan agar kegiatan positif bisa terus berjalan.


 Kesejahteraan Lansia: Aspirasi juga datang dari para ibu-ibu yang meminta agar program bantuan sosial, khususnya untuk warga lanjut usia (lansia) dan kelompok rentan, bisa lebih tepat sasaran dan rutin.


 Janji Yayat: "Semua Harus Diperjuangkan!"

 Kang Yayat Sumirat, yang latar belakangnya juga di bidang hukum (S.H.), memastikan bahwa semua keluhan yang masuk akan menjadi 'pekerjaan rumah' utama yang harus ia perjuangkan di parlemen.

 "Sesuai nama partai kami, PDI Perjuangan, saya akan berjuang habis-habisan untuk menindaklanjuti ini. Urusan lapangan bola itu penting! Kalau pemuda sibuk berolahraga, lingkungan kita jadi aman. Itu investasi masa depan," tegasnya.


 Beliau juga berjanji akan mengawal secara detail proses penganggaran untuk perbaikan infrastruktur ringan di Sukarame, memastikan dana yang turun benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga.

 Reses Kang Yayat di Sukarame membuktikan bahwa politik sejatinya adalah tentang melayani dan mendengarkan. Dengan ngopi bareng, jarak antara dewan dan rakyat pun hilang, membuat aspirasi mengalir deras dan transparan!